Jika saja kamu ada duanya…
Tak perlu kusita waktumu yang seharusnya dihabiskan bersamanya
Menuju tanah, air mata rasa salah yang kali ini menang pun berlinang.
Aku hanya ingin memelukmu.
Bersembunyi di balik malam, di belakang penyangkalan, bersebelahan bersama penyamaran
Aku hanya ingin memelukmu.
Menyerahkan keletihan akan raga sepanjang hari kepada pengakuan… Membutuhkanmu pada sore harinya menjelang malam
Kemudian menarik kesimpulan, jika tak bernafas lagi atau tak bersamamu adalah yang lebih baik
dari aku yang butuh memelukmu sekarang
atau nanti sesempatmu…
Tidak adakah lagi waktu sedikit, kita duduk berdampingan melawan terpaan angin, mengumpulkan asumsi-asumsi saling memiliki
dan kembali lagi ke keinginanku untuk memelukmu…
Haruskah saling memiliki untuk berpelukan?
Atau hanya aku yang bermimpi bisa bebas merengkuhmu?
Bersandar di dada menyesap aroma kebebasan mencintaimu
Menikmati melodrama sakit karena luka berhati denganmu
Jika tidak, dekap aku sekali lagi selama kamu mau, sebelum kita bersama pulang
Sebelum kamu antar aku semakin dekat ke rumah, sebelum aku mendekati jarakku dari senyum hangatmu
Aku hanya ingin memelukmu.
Barang sejenak terpulas dalam kenyamanan
Merasakan sebentar seperti apa memilikimu secara utuh dan keseluruhan
Untuk kusimpan mungkin selama ingatan.

Aku yang harus terbiasa bersembunyi untukmu. Bersembunyi dari mereka, bersembunyi dari dia, bersembunyi dari semua. Kamu telah sekali menemukanku, dengan senyuman dan sapuan lembut tanganmu. Namun tak pernah benar-benar mengangkat tinggiku karena bangganya kamu memilikiku. Terlalu banyak mata, terlalu menarik perhatian.
“Kita harus bersembunyi ke mana lagi?”
Kaki-kaki kenyataan nyaris selalu berhasil mengejar kita. Ke pepohonan tempat aku menunggumu tanpa sepengetahuan mereka, ke terpal-terpal pinggir jalan tempat kita nyaringkan tawa dan cerita-cerita, atau ke sudut-sudut ruang yang di sela-sela pelukan kita.
“Aku ingin kamu dan kita berada di sana.”
“Tapi tempat itu terlalu ramai bagi kita.”
“Terserah kamu saja..”
…. dan begitu seterusnya.
Sebelum perempatan jalan itu, dari sudut matamu, di muka bulir-bulir hujan yang membasahi kita. Maafkan ketidaksengajaanku, aku tidak mampu menahan tangisku. Menangis karena apa yang telah terjadi, menangis untuk apa yang mungkin terjadi. Suatu detik nanti, kita akan dan harus saling melupakan. Melupakan pepohonan, melupakan jalanan, melupakan ruangan. Dan kita harus tetap berlari, terus bersembunyi.
“Kita harus bersembunyi di mana lagi?”
Bagimu perasaan dan kesedihan bawaan sertanya adalah anugerah. Di pemberian perasaan cinta yang menyulut setiap hela rasa sayang tercampur di udara, menguap bersama harapan-harapan bersama mustahil kita. Di genggaman tangan dan ciuman tiba-tiba di balik persembunyian, sikap kecil yang tersisa untuk dipunya.
Aku yang bermimpi merangkulmu menuju tempat kesukaan, melewati jalan kecil melawan panasnya matahari di kulit-kulit kita. Namun siang hari terlalu terang bagi kita, dan lagi lagi… Kita harus bersembunyi, pada malam yang cukup nyaman bagi luapan kesedihan kita.
Air yang turun, membasahi dinding-dinding tameng pelindung pelukan-pelukan pedih kita. Jangan biarkan kita tertidur, mengabaikan hujan kepahitan yang sedang turun. Hujan yang sama dengan yang akan selalu mengingatkan, ada malam-malam yang dilalui untuk kita ingat, dilewati untuk kita simpan rapat.
Kita rindu bertatap muka, pada senja-senja yang jumawa, bertatap mata dalam bisu, demi menit-menit yang membeku. Lalu jingga melekuk di matamu, di teduh senja yang tenggelam membangunkan malam, melarutkan waktu waktu yang terkikis jadi debu. Lalu sajakku jadi lebur, pada bulan yang jatuh tersungkur, pada rindu yang terburu buru, pada jemari yang menunggu untukmu.
*Sigh*
Alright. Here we go.
So at the end of last year, I promised myself I would never again post such depressing, whining, moaning, complaining, whimpering writings anymore. In other words, I wanna start writing about happy, joyful, cheery, blissful and jovial stuff in my life. I put high hopes on 2013. The wheels MUST turn. Lady Luck MUST be on my side again. I MUST be happy.
There is nothing happy, joyful, cheery, blissful and jovial in my life (yet).
And so, I abandoned everything around me…
Yes, true. Since that fateful and heart-breaking decision I made 2011, I’ve been on this crazy working to earn some fucking money.
But sometime my heart remains empty. In fact, the only reason why I got busy working was because I wanted to “fill” that emptiness.
Which didn’t quite work.
Every day while I woke up thinking only about one thing. And even when I went to bed just thinking only about one thing. The one thing I shouldn’t be thinking about anymore…
But I couldn’t help it. I STILL can’t help it.
And still my heart remains empty and I don’t feel that there’s anything happy, joyful, cheery, blissful and jovial in my life (yet).
Then I’d be breaking my promise.
Which I just did.
Here I am… posting yet ANOTHER depressing, whining, moaning, complaining, whimpering article.
I guess I didn’t realize the extent of the damage here. He had broken me to pieces. Tiny little pieces. But the worst thing about all this is: I still love him. Very much. I love him with every single tiny broken piece. So now there are more pieces of my heart to love him with. Imagine that.
I’m pathetic. I know.
I tried to turn this emotion into hatred. Pure loathing disgust. After all, people say love and hate are only separated by a very thin line. I REALLY, REALLY, REALLY want to cross that line. Maybe then things would become easy(er) to handle.
So I listed all the things I don’t like about him. Things that could and would trigger huge arguments if we were together.
He gets too intense on everything he’s passionate about. Sometimes I just wanted to say, “Chill out, man! Geez…” And yet, after all that tiring intensity, once I challenged him to “GO FOR IT”, he’d become hesitant. Then he’d find reasons NOT to “go for it”. He’d discouraged himself by saying, “It’s not that simple.” Etcetera. He is indecisive. Obviously. Otherwise I wouldn’t have had to make that heart-breaking decision. I had to be decisive because he couldn’t. I had to “go for it” because he didn’t.
That’s all I got so far. And that list didn’t help a bit. Not even a tiny bit. I love him still. I love him DESPITE of all that. It’s absurd. It’s ridiculous. It’s incredibly nonsensical. But that’s the fact. And that’s the truth.
And every day, I still wake up thinking only about one thing. And I still go to bed thinking only about one thing. The one thing I shouldn’t be thinking about anymore… him.
So here I am… posting yet ANOTHER depressing, whining, moaning, complaining, whimpering article.
Because… this feeling… is still… unresolved.
Sorry.
Pikiran dan tubuhku kubawa berjalan sejauh mungkin, tetapi hatiku tertinggal untukmu.
Kehilangan adalah asumsi
Asumsi kita pernah memiliki
Andaikan aku tak pernah berasumsi pernah memilikimu
akupun tak kan pernah kehilanganmu
“Pecel dan air putih.”
Lalu kita tertawa bersama menikmati siang
menutupi kelam perasaan yang seringkali nikmat di saat-saat yang paling menyakitkan
“Es jeruk manis, aku juga sama.”
Gula diaduk-aduk, larut dalam air, menghilang tak berbentuk, tetapi terasa.
Aku tak bisa menghitung kadarnya, tetapi aku bisa tahu manisnya.
sama seperti aku berasumsi pernah memilikimu, kini aku kehilanganmu
Kamu marah, marah terhadap semua, marah terhadap kamu, marah terhadap aku
Marah terhadap kenyataan, marah terhadap pecel, air putih dan es jeruk manis.
Lalu aku berasumsi sekali lagi,
bahwa kamu pergi, membawa semuanya bersamamu.
Parfum…
Semprotkan ke udara, diaduk oleh perbedaan tekanan, lalu kita hadir di depanku.
Mau kemana hari ini? Mau kemana besok? (cinta) dalam tanda kurung
Jam 7 pagi, semua masih sepi
Aku di pikiranmu, bertumpuk dengan kertas-kertas dan pensil
Aku masih tidur (cinta) dalam tanda kurung,
sahutku di sela-sela mimpi yang entah baik entah buruk.
Siang-siang panas, macet, lelah.
Sore hari lelah, terpaksa, sedikit lega.
Malam hari membalikkan badan, menatap tembok, aku di sana.
Aku (cinta) mu, yang di dalam kurung.
Berhenti berasumsi, berhenti memiliki.
Aku dalam pikiranmu… berhenti.
Aku menatapmu, bersembunyi dalam cerita sedihmu.
Satu juta semoga dan ratusan ribu akankah mengalir dari tatapan mata kita.
Sekarang masih sama…
Satu juta semoga, ratusan ribu harapan dan (cinta) dalam tanda kurung.
“Jangan lupa makan sore, minum air putih yang banyak.”
Pecel, air putih dan es jeruk manis.
Setengah lima, dan kita harus berpisah.